Rabu, 14 Juli 2010

Aglaonema cochinchinense


Deskripsi :
  • Tipe batang tegak, tebal 1—1,5 cm.
  • Internode berukuran 0,4—1,0 cm.
  • Tangkai daun berukuran panjang 10—18 cm.
  • Helaian daun berbentuk bulat telur atau lanset hingga lonjong.
  • Ukuran daun panjang 15—25 cm, lebar 5,5—10 cm. Rasio antara panjang dan lebar 1:2,1—3,2 .
  • Pangkal daun tumpul hingga bulat, seringkali berbentuk sungsang. Namun dijumpai juga daun berujung runcing.
  • Tidak ditemui tipe variegata.
  • Tangkai bunga terdiri dari 1—2 tangkai sekaligus, panjang 9—15 cm.
  • Seludang berwarna hijau ukuran panjang 3—5 cm, seringkali berbentuk runcing.
  • Panjang tangkai bunga 0,3—1,0 cm.
  • Tandan bunga berbentuk silindris, panjang 1,9—3,2 cm.
  • Alat kelamin betina mempunyai panjang 0,4—0,7 cm. Terdiri dari 10 putik.
  • Buah berwarna merah, panjang mencapai 2 cm dan tebal 1 cm
Penyebaran :
  • Penyebaran di daerah selatan Thailand, Kamboja, dan Vietnam Selatan.
Periode berbunga :
  • Umumnya berbunga sekitar Maret—Juli.
Habitat :
  • Habitat di daerah dataran rendah, terutama hutan hujan tropis

Aglaonema nitidum



Deskripsi :

  • Tipe batang tegak, tinggi tanaman mencapai 1 m lebih, tebal 0,5—5 cm.
  • Panjang internod, ruas 0,5—2,0 cm.
  • Memiliki tangkai daun sepanjang 11—26 cm, biasanya berbentuk spiral.
  • Helaian daun berbentuk ellips hingga lonjong, panjang 20—45 cm, lebar 7—16 cm.
  • Pangkal daun lancip hingga tirus/mengecil ke sudut, sangat jarang ditemui jenis daun variegata
  • Tangkai bunga bersifat soliter, umumnya 2—5 tangkai menjadi satu, panjang 10—17cm.
  • Seludang berwarna hijau dan makin lama berubah menjadi putih. ukuran seludang, panjang 3—7 cm.
  • Tandan bunga berbentuk silindris, panjang 4—7 cm.
  • Alat kelamin betina, 0,5—1 cm, jumlah putik 16—37.
  • Stigma berwarna kuning.
  • Alat kelamin jantan berukuran panjang 2,5—5,0 cm dan tebal 1,5 cm, pada umumnya gugur setelah antesis.
  • Buah berwarna putih.
Penyebaran :
  • Penyebaran A. nitidum di selatan Myanmar, Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan.
Periode berbunga :
  • Berbunga tanpa mengenal musim.
Habitat :
  • Habitat di daerah dataran rendah dan daerah-daerah ternaungi.
Subspesies :
  • Aglaonema nitidum var nitidum forma nitidum
  • Aglaonema nitidum var nitidum forma curtisii
  • Aglaonema nitidum var helferi

Aglaonema rotundum


Deskripsi :
  • Tipe batang decumben, awalnya merambat lalu tegak ke atas.
  • Panjang internode hanya 1 cm.
  • Rotundum berperawakan kompak, dan lebih kecil dibanding aglaonema lain.
  • Tangkai daun berukuran panjang 2,5—4,5 cm.
  • Daun berbentuk bulat telur, panjang 6—13,5 cm dan lebar 5,8—10,6 cm.
  • Pangkal daun tumpul hingga pepat. Daun berwarna merah tua gelap. Bagian bawah permukaan daun berwarna hijau mengkilap.
  • Bakal daun berwarna cokelat tua, panjang 3,5 cm.
  • Tangkai bunga tunggal, panjang 6,5—7,0 cm.
  • Seludang bunga berukuran besar, panjang 6—7 cm.
  • Tandan bunga berukuran panjang 3cm.
  • Alat kelamin betina terdiri dari 2—3 seri dengan panjang 0,6 cm.
  • Alat kelamin jantan tebal 1,3 cm, panjang 2,5—3,5 cm.
  • Buah berukuran tebal 0,6 cm dan panjang 0,8 cm.
  • A. rotundum alam umumnya berukuran lebih kecil daripada hasil budidaya.
Penyebaran :
  • Aglaonema rotundum diduga hanya di daerah Sumatera.
Habitat :
  • Habitat dekat dengan air terjun, pada ketinggian 360 m.

Aglaonema vittatum

Deskripsi :
  • Tinggi tanaman 10—15 cm.
  • Panjang internoda 0,4—1,4 cm
  • Tangkai daun berukuran panjang 2—4,2 cm.
  • Helaian daun berbentuk lanset, panjang 6,5—10,5 cm, lebar 1,7—3,0 cm.
  • Pangkal daun berbentuk sungsang, tumpul.
  • Daun berbentul lanset, panjang 6,5—10,5 cm, lebar 1,7—3,0 cm.
  • Tangkai bunga soliter, berukuran panjang 2,5—3,0 cm.
  • Alat kelamin betina terdiri dari 10 putik.
  • Buah berwarna merah.
Penyebaran :
  • Penyebaran di daerah timur Sumatera, dan kepulauan Lingga.
Periode berbunga :
  • Periode berbunga antara Juli—Agustus.
Habitat :
  • Habitat utamanya di hutan hujan tropis.

Aglaonema nebulosum


Deskripsi :
  • Batang tegak, tinggi 10—60 cm, tebal 0,5—1,0 cm.
  • Panjang internode 0,5—2,0 cm.
  • Tangkai daun berukuran 2—5 cm.
  • Seludang berbentuk pendek, panjang 0,5—1,5 cm.
  • Helaian daun berbentuk jantung terbalik hingga lonjong dan menyempit di ujung, kadang elips, panjang daun 9—18 cm, lebar 3—5,5 cm, dengan perbandingan panjang dan lebar, 1:2,5—3,5.
  • Pangkal daun tumpul hingga lancip, ujung meruncing.
  • Jarang ditemui A. nebulosum variegata.
  • Tangkai bunga bersifat soliter, kadang dobel, berukuran panjang 2—4,5 cm,
  • Seludang bunga runcing, berwarna hijau berbentuk membulat. Ukuran seludang bunga panjang 1,7—2,7 cm, lebar 4 cm.
  • Alat kelamin betina panjang 0,3—0,6 cm, tebal 0,6 cm. Jumlah putik 10—20.
  • Alat kelamin jantan, panjang 0,9—1,5 cm, tebal 0,3—0,4 cm, berwarna putih.
  • Buah berwarna merah tua, panjang 0,7—2,0 cm, tebal 0,4—0,9 cm
Penyebaran :
  • Wilayah penyebaran A. nebulosum meliputi kepulauan Malaysia, Kalimantan, dan pantai timur Sumatera.
Periode berbunga :
  • Tanaman ini berbunga sepanjang waktu.
Habitat :
  • Ditemukan di daerah berketinggian 600 m.

Aglaonema pictum


Deskripsi :
  • Batang tegak, tinggi 30—50 cm, tebal 0,3—2,0 cm.
  • Panjang internodes 0,5—5,0 cm.
  • Panjang tangkai daun 3—7 cm.
  • Helaian daun berbentuk elips hingga oval, panjang daun 10—16 cm, lebar 3,5—6,0 cm.
  • Pangkal daun berbentuk sungsang, tumpul sampai bulat, kadangkala pepat di ujungnya.
  • Ujung daun meruncing, jenis daun variegata atau tidak dengan bercak tidak beraturan berwarna hijau terang hingga perak.
  • Satu peduncle, tangkai bunga, terdiri dari 1—4 bunga sekaligus.
  • Seludang berwarna hijau terang hingga kekuningan, berbentuk globose, hampir bundar, dengan ujung runcing, ukuran panjang 1,5—3,0 cm, lebar 7 cm.
  • Panjang tangkai bunga 0,3—1,2 cm.
  • Panjang alat kelamin betina 0,2—0,5 cm, memiliki 12—26 putik.
  • Tandan bunga berbentuk clavate, berbentuk mirip gada, seperti tongkat besar yang yang tebal bagian atasnya.
  • Panjang alat kelamin jantan 1—2 cm
  • Stigma terdiri dari ovari, panjang alat kelamin jantan 1—2 cm, bagian bawah biasanya bersifat steril, Tebal 0,3—0,5 cm di bagian dasar, dan 0,7—0,8 cm di bagian tengah.
  • Buah berwarna merah, panjang 1—1,5 cm, dan tebal 0,5—1,0 cm
Penyebaran :
  • Tumbuh menyebar di daerah Sumatera dan Nias.
Periode berbunga :
  • Bunga muncul antara April hingga Agustus.
Habitat :
  • Habitatnya antara 1.000—2.000 m dpl, terutama di daerah-daerah gunung berapi.

Aglaonema hookerianum


Ciri khas A.hookerianum tipe bunga duduk, sehingga nampak menempel pada seludang, buah berukuran besar, tangkai bunga lebih panjang dibanding A. ovatum dan A. modestum, habitat terbatas di daerah barat Myanmar, Tenggara Pakistan, dan Timur laut India.

Deskripsi :
  • Batang tegak, tinggi 40—50 cm, tebal 1,5—2,0 cm.
  • Jarak internode 1,5—3,0 cm.
  • Panjang tangkai daun 14—24 cm.
  • Daun berbentuk bulat telur hingga ellips, kadang kadang lanset. Panjang
    daun 20—27 cm, lebar 7—12 cm.
  • Pangkal daun berbentuk sunsang, membulat, atau tumpul.
  • Ujung daun meruncing,
  • Tangkai bunga terdiri dari 1—3 bunga, panjang 10—21 cm.
  • Seludang bunga berukuran panjang 3,7—6 cm.
  • Tandan bunga berukuran kecil, silindris, panjang 2,5—4,0 cm.
  • Panjang alat kelamin betina 0,3—0,6 cm, jumlah putik 10—15.
  • Alat kelamin jantan, panjang 2,0—3,7 cm, tebal 0,3—0,6 cm.
  • Buah berwarna merah, berukuran besar ketika matang, panjang 2-3 cm,
    tebal 0,9—1,4 cm.
Penyebaran :
  • Penyebaran di daerah timur laut India, selatan Pakistan, dan daerah pantai
    barat Myanmar.
Periode berbunga :
  • Bunga muncul pada bulan Juni—Juli
Habitat :
  • Aglaonema hookerianum banyak ditemukan di ketinggian kurang dari
    1.000 m dpl, dalam hutan dengan curah hujan lebih dari 80 inci pertahun.

Selasa, 13 Juli 2010

Aglaonema modestum


Di Amerika Serikat A. modestum dikenal sebagai Chinese evergreen. Aglaonema ini sudah populer sebagai tanaman hias. Di Cina sering disebut sebagai wan-lien-tching yang artinya 10.000 tahun hijau atau selalu hijau. Keberadaan A. modestum dianggap membawa keberuntungan bagi pemiliknya.

Deskripsi :
  • Batang berwarna hijau gelap, tegak, tinggi 20—50 cm, tebal 0,4—2,0 cm.
  • Tangkai daun panjang 10—20 cm.
  • Seludang bunga mempunyai selaput tipis, panjang 4—8 cm.
  • Daun berbentuk bulat telur, kadang elips. Panjang daun 14—25 cm, lebar 8—11 cm.
  • Satu tangkai bunga terdiri dari 1—3 tangkai, berukuran panjang 5—12,5 cm.
  • Tandan bunga kecil, berbentuk silindris, panjang 0,5—2,0 cm.
  • Seludang bunga berujung runcing.
  • Panjang alat kelamin betina 0,5—1,0 cm, jumlah putik 9—13.
  • Panjang alat kelamin jantan 2,3—3,5 cm, tebal 0,3—0,6 cm.
  • Buah berwarna oranye, panjang 2—3 cm, tebal 1—1,3 cm.
Penyebaran :
  • Aglaonema ini tersebar di daerah Cina Selatan, bagian utara Laos, dan utara Thailand.
Periode berbunga :
  • Waktu berbunga antara Maret—April.
Habitat :
  • Habitat tumbuh daerah lembap, terutama hutan tropis dan subtropis.

Aglaonema ovatum


Deskripsi :
  • Batang tegak, tebal 0,5—1,5 cm.
  • Panjang internode 0,7—3,0 cm.
  • Panjang tangkai daun 8—14 cm.
  • Seludang bunga berupa selaput tipis, berukuran panjang 3—8 cm.
  • Helaian daun berbentuk bulat telur hingga lanset. Kadang dijump berbentuk jorong. Panjang 13—21 cm, lebar 5—10,5 cm. Rasio panjang dan lebar, 1:2—3.
  • Ujung daun meruncing
  • Jarang ditemui daun variegata
  • Tangkai bunga memuat 1—2 bunga sekaligus, panjang 3,5—7,0 cm merupakan 1/2 dari panjang petiol.
  • Panjang seludang 3,5—4,7 cm,
  • Tandan bunga berbentuk silindris, panjang 3—4,3 cm.
  • Alat kelamin betina berjumlah 10—20 dengan panjang 0,4—1,6 cm.
  • Alat kelamin jantan berukuran panjang 2,8—3,5 cm, tebal 0,6—1,0 cm. Pistile terdiri dari 2 area, fertil dan steril. Kedua bagian ini dibedakan oleh bentuk dan warna pistil.
  • Buah berwarna merah, panjang 1,1—2,0 cm dan tebal 0,7—1,0 cm
Penyebaran :
  • Aglaonema ovatum banyak ditemui hidup subur di sebelah utara Asia Tenggara,
Periode berbunga :
  • Bunga muncul antara April—Mei.
Habitat :
  • Tumbuh subur terutama di hutan basah, lembap, dan ternaungi.
Subspesies :
  • Aglaonema ovatum forma ovatum
  • Aglaonema ovatum forma maculatum

Aglaonema costatum


Aglaonema costatum populer karena corak variegatanya. Corak pola daun terpampang jelas terutama pada daun muda. Species ini hampir mirip A. brevispathum dan kadangkala sulit dibedakan.

Deskripsi :
  • Tebal akar 0,5 cm
  • Batang berbuku-buku dan bercabang, tebal 0,6— 1,3 cm.
  • Panjang internode 0,1—0,5 cm.
  • Panjang tangkai daun 5—12 cm.
  • Seludang bunga yang berfungsi melindungi bunga yang masih kuncup panjang 1 cm.
  • Daun berbentuk ovate—bundar telur—kadang berbentuk lanset, panjang 9,5—20 cm, lebar 6—10 cm, perbandingan panjang:lebar=1:1,5— 2,5.
  • Ujung daun berbentuk runcing, lancip, atau meruncing.
  • Daun biasanya bersifat variegata dengan spot di pinggir-pinggir helaian daun.
  • Panjang bakal daun 5—8 cm.
  • Tangkai bunga bersifat tunggal, panjang 5—15 cm.
  • Seludang bunga berbentuk runcing, panjang 2,5—4,0 cm.
  • Panjang tangkai alat kelamin 0,2—0,6 cm.
  • Tandan bunga berbentuk bulat memanjang hingga silinder.
  • Panjang putik 0,2—0,5 cm, jumlah putik 6—13
  • Alat kelamin jantan berukuran panjang 1,5—3,3 cm, dan tebal 0,5— 0,8 cm.
  • Buah belum diketahui
Penyebaran :
  • Terutama di daerah Asia Tenggara, mulai dari Pulau Langkawi (Malaysia) hingga Vietnam.
Periode berbunga :
  • Umumnya bunga tumbuh sekitar Maret—Juni.
Habitat :
  • Menyenangi daerah lembap dan ternaungi.
Subspesies :
  • Aglaonema costatum forma costatum
  • Aglaonema costatum forma immaculatum
  • Aglaonema costatum forma virescens
  • Aglaonema costatum forma concolor

Ragam Aglaonema spesies

Hutan-hutan di Asia tenggara menjadi habitat aglaonema. Beberapa negara menyediakan aglaonema yang berbeda jenis. Di Indonesia, beda dengan di Thailand, Birma, atau Filipina. Karena itulah negara-negara itu mempunyai silangan yang khas. Indonesia mempunyai silangan yang didominasi warna merah, karena dihasilkan dari A. rotundum. Thailand juga menghasilkan warna merah, tetapi dihasilkan oleh A. cochinense.
  1. Aglaonema brevispathum
  2. Aglaonema costatum
  3. Aglaonema ovatum
  4. Aglaonema modestum
  5. Aglaonema hookerianum
  6. Aglaonema pictum
  7. Aglaonema nebulosum
  8. Aglaonema vittatum
  9. Aglaonema rotundum
  10. Aglaonema nitidum
  11. Aglaonema cochinchinense
  12. Aglaonema tenuipes
  13. Aglaonema simplex
  14. Aglaonema condifolium
  15. Aglaonema marantifolium
  16. Aglaonema stenophyllum
  17. Aglaonema pumilum

Aglaonema brevispathum


Deskripsi :
  • Batang berbuku-buku dan bercabang ke kiri-kanan batang secara tidak beraturan, disertai 3 daun atau lebih, tebal 0,5—1,0 cm.
  • Jarak antar buku 0,3—1,5 cm.
  • Panjang petiola 13—25 cm
  • Katafil—daun yang belum sempurna tumbuh, masih dalam keadaan kuncup-berwarna cokelat, menutupi sebagian petiol.
  • Pedunkulus—tangkai bunga—bersifat tunggal, panjang 7—12 cm, menempati porsi 1/3—3/4 panjang petiola.
  • Seludang berujung runcing, panjang 1,5—3,5 cm, dan tumbuh menjulur ke bawah.
  • Panjang stipe—tangkai alat kelamin jantan dan betina—0,2—1,0 cm.
  • Tandan bunga bulat memanjang, panjang 1,2—2,5 cm, Jumlah putik kurang dari 10, berukuran panjang 0,2—0,5 cm
  • Alat kelamin jantan berukuran panjang 1—2 cm
  • Buah berwarna merah, panjang 1,2—1,7 cm dan tebal 0,5—1,0 cm
Penyebaran :
  • Tanaman ini utamanya terdapat di Benua Asia terutama wilayah Asia Tenggara
Periode berbunga :
  • Bunga muncul sekitar antara Maret—Juli
Habitat :
  • Daerah dekat air terjun atau daerah lembap sampai ketinggian 500 m
Subspesies :
  • Aglaonema brevispathum forma brevispathum
  • Aglaonema brevispathum forma hospitum

Senin, 12 Juli 2010

N. raffesiana


Posisi bagian depan peristome pada kantong bawah letaknya agak tinggi. Nyata sekali lebarnya di bagian atas, di bawah penutup kantong.

Ciri khas
Kantong bawah mempunyai peristome yang lebar dengan gigi pendek dan jelas.Peristome itu pada bagian depannya agar menanjak dan melebar di bagian atas.

Budidaya
Raffesiana sangat cocok untuk pemula lantaran perawatannya mudah. Ia hanya membutuhkan siang yang panas, malam yang hangat dengan suhu 25 —40 oC, dan kelembapan sekitar 70%. Tempat yang terbaik baginya adalah ruang terbuka dengan naungan 50%.

Deskripsi kantong
Warna kantong bawah cokelat atau hijau. Ada pula kantong putih dengan bintik-bintik merah dan cokelat. Kantong atas umumnya putih atau kuning dengan bercak merah. Ia lebih elastis dan berbentuk mirip corong panjang. Raffesiana nepenthes berkantong terbesar di Kalimantan, tapi ada juga yang hanya berukuran 5 cm. Tinggi kantong kurang dari 20 cm. Kantong bawah tinggi 8,5 cm—25, lebar 5,5—9 cm dengan 2 sayap selebar 1—3 cm. Kantong atas berbentuk subsilindris, panjang 9—34 cm, lebar 3—8 cm.

Info
Ia memiliki beberapa varietas. Yang terkenal antara lain squat red. Squat berarti
gemuk pendek. Red menunjukan warna merah gelap hingga merah darah. Varietas lain, N. elongata berwarna putih berbintik merah.

Bentuk kantong lonjong. Sekujur batang ditumbuhi rambut putih halus mengesankan perempuan tua beruban. Tinggi kantong mencapai 30 cm membuatnya dikatakan raksasa. Kesamaan lain, kantong mereka berwarna ungu.

Walaupun jarang ditemukan di daratan Sumatera, namun raffesiana bisa dijumpai di pulau-pulau sepanjang Kepulauan Riau dan Singapura. Di Kalimantan sudah ditemukan 4 variasi raffesiana, 2 di antaranya belum dideskripsikan. Salah satu yang terkenal adalah N. raffesiana var elongata atau sering disebut N.sp.”elegance”. Persilangan alami di alam, N. raffesiana x N. ampullaria, N. raffesiana x N. bicalcarata, N. raffesiana x N. gracilis, dan N. raffesiana x N. mirabilis.

N. mirabilis


Ciri khas
Tulang daun longitudinal jelas sekali. Di spesies lain tulang itu tidak terlihat jelas. Tepi daun kadang-kadang bergerigi.

Budidaya
Daya adaptasinya luar biasa tinggi, bisa tumbuh mulai dari 0—1500 m dpl dan dapat dijumpai di banyak negara. Ia mudah dirawat di dataran rendah. Redam sorot sinar matahari dengan jaring peneduh 50% dan jaga kelembapan agar tetap tinggi. Ia rentan jika kelembapan rendah. Media tanam harus lembap.

Deskripsi kantong
Bagian bawah kantong roset membesar, kemudian menyempit setelah mencapi setngah tinggi kantong. Peristome agak datar, bulat, dan menyempit ke arah pangkal penutup. Kantong atas penampilannya sama dengan kantong roset. Warna kantong hijau, kadang disertai warna kemerahan.

Info
Spesies yang paling luas penyebarannya di seluruh dunia. Ia bisa tumbuh di ketinggian 200 m dpl, ditemukan pula pada ketinggian 1000 m dpl, bahkan sampai 1500 m dpl walaupun populasinya di puncak gunung itu sedikit. Pada abad 19 namanya N. Phyllamphora. Habitatnya di hutan kerangas, hutan gambut, dan padang rumput. Ada beberapa jenis hibrida alaminya, N.mirabilis x N. ampullaria, N. mirabilis x N. bicalcarata, N.mirabilis x N gracilis, dan N. mirabilis x N raffesiana. Di Brunei dan Sarawak ditemukan varietas paling ekstrim dari N. mirabilis, spesies dengan peristome besar itu dinamakan N. echinostoma.

N. gracilis


Ciri khas
Selalu tumbuh merambat, walaupun variasinya banyak sekali. Bentuknya sulit dibedakan dengan N. reinwardtiana, tetapi N. gracillis tidak mempunyai spot mata di sebelah dalam bagian atas kantong. Waktu berbunga berlainan dengan spesies lain di Pulau Kalimantan.

Budidaya
Ini spesies yang sangat adaptif dan tersebar luas di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Ia mudah dipelihara dengan perlakuan nepenthes untuk dataran rendah. Saat tanaman sudah besar, pindahkan ke pot lebih besar dan ia akan merambat sambil menghasilkan kantong yang banyak.

Deskripsi kantong
Warna kantong bervariasi, hijau, merah, atau cokelat kemerahan. Bentuknya silinder di bagian atas dan bulat telur di bagian bawah. Peristome berwarna hijau. Penutup kantong berwarna senada dengan kantong, kadang disertai bintik-bintik berwarna merah di luarnya. Bagian dalam permukaan kantong berwarna putih, sering disertai bintik berwarna ungu atau cokelat. Tinggi kantong mencapai 15 cm. Dibanding nepenthes lain kurang memiliki keistimewaan yang luar biasa. Spesies ini mudah dikenali.

Info
N. gracillis sepintas lalu memiliki ciri yang hampir sama dengan N. reinwardtiana. Perbedaannya, pada warna kantong, gracilis hijau suram dan reinwardtiana hijau terang. Pada kantong N. reinwardtiana terdapat 2 spot (mata) di bagian dalam sebelah atas kantong sedangkan N. gracilis tidak memiliki spot. Kehadiran N. gracilis bisa menjadi indikator alami untuk tanah kritis. Daerah penyebarannya sangat luas. Hibrida alaminya antara lain N. gracillis x N. ampullaria. Persilangan alami spesies ini jarang ditemui di alam lantaran waktu berbunganya yang relatif berbeda dibanding jenis lain kecuali ampullaria.Bentuk kantongnya agak mirip dengan N. albomarginata. Yang jadi pembeda ialah tidak ada garis putih keabuan di bawah peristome pada N. gracillis. Batang spesies ini juga berbentuk segitiga. N. gracilis dikenal luas di Sumatera Barat, masyarakat memakai batangnya untuk bahan pengikat, sedangkan air dari kantong yang masih tertutup digunakan untuk obat pencuci mata.

N. bicalcarata


Ciri khas
Ada 2 taring di bawah tutup kantongnya. Taring itu sebenarnya kelenjar nektar raksasa, terbesar dibandingkan kelenjar nektar spesies lain. Daunnya panjang sampai 80 cm dan lebar 10 cm. Bicalcarata merupakan spesies terbesar di keluarga Nepenthaceae. Batang dapat tumbuh memanjat hingga 20 m.

Budidaya
Termasuk spesies dataran rendah yang relatif mudah dibudidayakan. Pemakaian jaring peneduh 50% dan kelembapan terjaga, minimal 60%, sudah memadai untuk lingkungan hidupnya. Media tanam yang cocok, antara lain spaghnum moss, campuran cocopeat dan sekam, atau kombinasi cocopeat dan pakis. Prinsipnya, media dapat menangkap air.

Deskripsi kantong
Warna kantong bawah beragam, hijau oranye atau merah. Yang terbanyak warna merah dengan sulur agak panjang. Ukuran kantong termasuk besar, sekitar 25 cm. Pada beberapa kasus kantong itu sanggup menampung satu liter air. Kantong atas kecil dengan warna bervariasi, mulai dari hijau, oranye, sampai ke merah tua. Peristome-nya hijau.

Info
N. bicalcarata adalah tuan rumah untuk semut Camponotus sp yang
memakan sisa-sisa serangga di kantong N. bicalcarata. Ia tumbuh di
hutan gambut basah bersama dengan N. ampullaria dan kadang-kadang

N. ampullaria


Ciri khas
Daun di dekat pangkal lebar dan semakin mengecil ke ujungnya. Daun dan pucuk bulat berbulu cokelat muda. Batang menjalar tidak mempunyai kantong. Kantong bawah berbentuk ampul, seperti labu. Tutup kantong posisinya berlawanan arah, sehingga air hujan mudah masuk ke dalam kantong. Posisi tutup kantong bawah itu tidak ditemukan pada spesies lonceng gunung lain.

Budidaya
Mudah disetek, cangkok, atau layering. Bisa dipotkan di dataran rendah dan tinggi. Harus dipangkas agar kantong roset terus muncul. Media di pot berupa kompos, tetapi ia lebih menyukai media yang selalu lembap.

Deskripsi kantong
Spesies ini kebanyakan hanya memiliki kantong bawah saja. Yang unik, jarang ditemukan serangga mati di dalam kantongnya, sehingga ia ibarat vegetarian di kalangan carnivorous plant. Penyebabnya, ia tidak memiliki kelenjar sekresi nektar untuk mengundang kedatangan mangsa.Warna kantong antarsubspesies ampullaria sangat beragam, mulai polos putih, hijau, kuning, merah, hingga merah-burgundi tua. Ada juga yang memiliki bercak cokelat, merah, hijau, dan ungu. Warna bibir kantong —peristom —juga bervariasi, kuning, hijau, hingga merah. Tinggi kantong tanaman dewasa berkisar antara 5 —10 cm, tetapi ada juga yang mencapai 15 cm. Bentuk kantong bundar dengan bibir luas dan melengkung.


Minggu, 11 Juli 2010

Morfologi

Alam masih menyembunyikan rahasia proses munculnya ratusan spesies tanaman pemakan serangga yang hidup sangat adaptif, dapat ditemukan di dataran rendah sampai tinggi. Bahkan ada yang di alam tumbuh di hutan pegunungan nan sejuk, ternyata saat ditanam di tempat panas, juga masih tumbuh bagus.

Gordon Cheers dalam bukunya Carnivorous Plant of the World memaparkan, ada 2 pendapat tentang perkembangan tanaman karnivora. Pendapat pertama mengatakan, ketika tanaman berevolusi, beberapa mempunyai kemampuan untuk menyatukan semua bagian dan membentuk tanaman karnivora yang memiliki bentuk sangat bervariasi.

Pendapat lain menyebutkan, ada satu atau lebih tanaman dengan berbagai bentuk yang termodifkasi menjadi berbagai variasi tanaman karnivora. Tanaman itu kini sudah tidak ada lagi. Sayang, tidak ada jejak peninggalan purba yang bisa menjadi landasan penyelidikan lebih lanjut. Jadi, salah satu cara yang dilakukan ialah mencoba mengamati perubahan yang terjadi pada periuk monyet.

Pendapat terakhir, pada zaman dahulu terdapat ‘super karnivora’, tanaman dengan seluruh bagian seperti tanaman di atas atau lebih. Tanaman itu terdapat di seluruh bagian dunia dan setelah terjadi evolusi, kehilangan sebagian bentuknya, berubah dan berkembang menjadi nepenthes seperti sekarang. Berikut skema evolusi tanaman non-karnivora menjadi pemakan serangga versi Gordon Cheers. Pada skema itu diimajinasikan ada tanaman antara yang menjadi jembatan perubahan dari non-karnivora menjadi karnivora.

A. Morfologi nepenthes

Di hutan nepenthes ada yang tumbuh tegak, seperti antara lain N. truncata, N. clipeata, dan N. argentii. Banyak juga yang merambat. Yang membedakannya dari tumbuhan merambat lain ialah ada kantong di ujung daun. Itulah ciri khas dan daya tarik utama nepenthes. Warna dan bentuk kantong bervariasi sekali. Bagi penggemar tanaman hias, kantong itu ibarat bunga di tanaman lain. Nepenthes dipelihara dengan satu harapan: muncul kantong yang banyak, seragam, dan warna cemerlang.

Namun, kantong itu ternyata tidak muncul secara otomatis. Jika daun rusak saat pertumbuhan, kekurangan cahaya atau kelembapan terlalu rendah, maka mogoklah sang kantong. Ia tidak akan mau memperlihatkan diri. Jadi, walaupun kantong daya tarik utama, tetapi bagian tanaman lain, seperti akar, daun, bunga, dan buah bukanlah bagian tanaman yang dapat dikesampingkan. Tanpa bagian-bagian tanaman itu, nepenthes tidak akan memamerkan kecantikannya.

Batang

Bayangkan anggur dan vanili. Seperti itulah perilaku tumbuh nepenthes yang sifatnya merambat. Kalau di dekat tempat tumbuhnya ada tanaman lain, ia akan memanjatnya sampai ketinggian 0,3—60 m, tergantung jenisnya. Semak perdu yang ada di sekitarnya pun menjadi sasaran panjat. Bayangkan pula stroberi yang tumbuh menjalar. Itu pula yang dilakukan beberapa spesies kantong semar.

Bentuk batang ketakung berbeda, tergantung spesiesnya. Pemilik batang segitiga, misalnya N. gracilis dan N. reinwardtiana; segi empat, N. spathulata; bersudut, N. adrianii. Tebalnya cuma 3—30 mm. Namun, jangan remehkan kekuatannya. Batang tua di Kalimantan dianyam menjadi keranjang; di Papua, gelang. Batang berwarna hijau, kadang-kadang ungu tua atau merah tua. Pada beberapa spesies muncul batang roset yang letaknya di pangkal batang tertua. Batang roset itu ruasnya jarang memanjang. Kelak batang roset itu akan menua, memanjang, dengan jarak antarruas yang juga lebih panjang, bisa sampai 18 cm.

Daun

Warna daun periuk monyet hijau atau hijau kekuningan. Kadang-kadang, dan itu sangat langka, warna daun merah tua sampai mendekati keunguan. Daun itu muncul di ruas-ruas batang dengan jarak tetap. Di ujung daun akan muncul sulur panjang nan tipis. Sulurnya menjadi penopang tatkala ia merambat ke pohon lain. Di ujung sulur itulah kelak muncul kantong. Kantong tidak akan muncul kalau lingkungan tidak ideal. Tumbuhnya kantong pada beberapa spesies bersifat musiman.

Daun salah satu pembeda antarspesies nepenthes. Variasi bentuk dan warna kantong kerapkali menyulitkan identifkasi. Berkat daun, pengenalan jenis menjadi lebih mudah dilakukan. Ambil contoh N. ampullaria. Daunnya yang sebelah atas besar, kemudian mengecil ke bawahnya. Sedangkan untuk N. mirabilis, tulang daun longitudinal jelas sekali. Spesies lain tulang daunnya tidak jelas karena tipis. Ciri lain, pinggir daun kadang-kadang bergerigi.

Kantong

Apa jadinya jika nepenthes tidak berkantong? Ia pasti tidak akan berubah status dari tanaman pegunungan menjadi salah satu komoditas dalam industri forikultura. Bayangkan saja, warnanya demikian beragam: kuning, hijau, merah, cokelat, hitam, merah kecokelatan, hijau semburat merah. Luar biasa sekali keragaman warna di kantong itu.

Variasi warna itu masih ditambah lagi dengan 6 bentuk kantong. Ada yang berbentuk silinder memanjang, bulat memanjang, bundar, bulat telur, berbentuk kendi, atau seperti corong. Kantong itu berlubang dan terbuka, dengan tepi lubang yang disebut peristome. Pada awal pembentukan, kantong tertutup oleh penutup yang juga beraneka macam bentuknya: bundar, lonjong, bulat telur, silinder, segitiga atau berbentuk taji. Di kantong itu juga ada sepasang sayap yang berbulu. Ke dalam kantong itulah serangga tergelincir masuk dan terjebak di dalamnya.

Dilihat dari letaknya, dikenal dua jenis kantong yakni kantong bawah dan atas. Kantong bawah alias kantong roset biasanya mulutnya lebar. Kantong rosetmuncul pada tanaman yang relatif muda atau nepenthes yang sudah dipangkas, sehingga merangsang pemunculan daun roset. Sayap di bagian depan kantong berkembang baik, dengan tampilan rambut tipis sepanjang tepinya. Kantong atas pada nepenthes bentuknya cenderung seperti corong dibandingkan kantong bawah. Sayapnya menjadi dua tulang daun tipis dengan sedikit rambut pinggir. Kantong atas menyimpan cairan dalan jumlah sedikit dibandingkan kantong bawah sehingga lebih ringan. Beberapa spesies nepenthes, sebagaimana dipaparkan Charles Clarke dalam buku Nepenthes of Borneo, memiliki kantong peralihan. Sesuai posisinya sebagai perantara antara kantong atas dan bawah, maka bentuk kantong pun merupakan peralihan dari bentuk kantong atas dan bawah. Mereka mungkin saja memiliki sayap, tetapi tipe corongnya belum seperti kantong bawah. Namun, sudah lebih menyerupai corong daripada kantong atas.

Bunga

Bunga nepenthes muncul di dekat puncak batang utama. Ia muncul sekali atau dua kali setahun, atau bahkan terus-menerus. Satu tanaman menghasilkan bunga jantan atau betina. Bunga jantan cirinya, saat belum mekar bentuk bakal bunga bulat tanpa ada belimbingan. Bunga betina pasti ada belimbingan di bakal bunganya. Karena bunga jantan dan betina tidak berada di satu tanaman, maka nepenthes perlu penghulu untuk melakukan perkawinan. Penyerbukan terjadi jika ada serangga membawa serbuk sari dari kepala sari bunga jantan ke kepala putik bunga betina.

Kepala sari di bunga jantan melingkar di atas column yang pendek. Bunga betina memiliki ovarium (bakal buah) bulat memanjang dibagi dalam empat bilik. Kalau terjadi penyerbukan, kelak bisa dihasilkan sekitar 500 benih berukuran hingga 3 cm, sangat tipis dan di dalamnya terdapat endosperma, cadangan makanan, yang sangat kecil. Benih itulah yang disebarkan oleh angin dan kelak berubah menjadi tanaman baru.

Nepenthes

Nepenthes (Kantong semar, bahasa Inggris: Tropical pitcher plant), yang termasuk dalam familia monotipik, terdiri dari 80-100 spesies, baik yang alami maupun hibrida. Genus ini merupakan tumbuhan karnivora di kawasan tropis Dunia Lama, kini meliputi negara Indonesia (55 spesies, 85%), Republik Rakyat Cina bagian selatan, Malaysia, Filipina, Madagaskar, Seychelles, Australia, Kaledonia Baru, India, dan Sri Lanka. Habitat dengan spesies terbanyak ialah di pulau Borneo dan Sumatra.

Tumbuhan ini dapat mencapai tinggi 15-20 m dengan cara memanjat tanaman lainnya. Pada ujung daun terdapat sulur yang dapat termodifikasi membentuk kantong, yaitu alat perangkap yang digunakan untuk memakan mangsanya (misalnya serangga, pacet, anak kodok) yang masuk ke dalam.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Nepenthes

Klasifkasi dan Ragam Adenium

Walaupun berasal dari daerah gurun di Afrika dan Semenanjung Arab, tetapi berkat kecantikannya,nama adenium makin tersohor. Mawar gurun itu dengan cepat menyebar ke seluruh dunia.Terlebih setelah dihasilkan jenis-jenis baru hasil persilangan beragam indukan, utamanya Adenium obesum.

Berikut klasifikasi mawar gurun itu :

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Asteridae

Ordo : Gentianales

Famili : Apocynaceae

Genus : Adenium

Spesies : Adenium obesum, A. multiforum, A. swazicum, A. boehmianum, A. oleifolium,

A. somalense, A. somelense var. crispum, A. arabicum, dan A. socotranum.

Ragam

Dari hasil persilangan induk dan seleksi, kini ragam adenium kian bertambah pesat. Padahal dahulu terbatas bunga merah dan putih. Dalam perkembangannya muncul variasiadenium dengan perbedaan warna, corak, dan motif bunga. Mulai dari merah, merah muda, merah tua hingga ungu dan biru. Dari hasil persilangan itu diperoleh warna baru dan corak yang lebih beragam.

1. Spesies

Adenium spesies sebagian besar ditemukan di wilayah Afrika Selatan hingga Semenanjung Arab.Ia tumbuh meraksasa dan menyemak secara alami. Setidaknya ditemukan sekitar 8 jenis adenium spesies,yaitu: A. obesum, A. multiflorum, A. swazicum, A. boehmianum, A. oleifolium, A. somalense,A. somelense var. crispum, A. arabicum, dan A. socotranum.

Di antara sekian banyak, spesies Adenium obesum terhitung paling popular. Meski sosoknya lebih kecil, tetapi bisa dijumpai di berbagai negara, termasuk Indonesia. Berikut deskripsi masing-masing spesies:

a. Adenium obesum

Adenium ini lebih dikenal sebagai desert rose atau karoo rose. Ia banyak ditemukan di timur Afrika dan selatan Arabia. Jenis inilah yang banyak berkembang di Indonesia. Penyebarannya meluas hingga ke selatan Sahara, Senegal, Sudan sampai Kenya. Itu karena pertumbuhannya tergolong sangat mudah, cepat, dan rajin berbunga.

Di habitat aslinya, adenium ini tumbuh menyemak. Ukurannya mencapai 10—12 meter. Bentuk batang menebal dan semakin ke atas mengecil. Sayangnya, ukuran seperti itu tak mudah diperoleh di Indonesia.Di sini, ukurannya lebih pendek, hanya 1—2 m.

Panjang daun mencapai 3—10 cm dengan ujung daun membulat. Warna daun hijau terang.Tulang daun mempunyai garis tegas maupun tipis. Bunganya identik dengan warna merah di tepi petal dan putih di tengah. Dari satu spesies Adenium obesum ditemukan beberapa varian. Seperti Adenium obesum ‘red everbloom’, dengan dominasi warna merah dan putih di tengah.

Corong bunga berwarna putih dan terdapat garis merah muda. Ukuran diameter bunga mencapai 6—7 cm atau berkisar 2 inci. Bunga berbentuk bintang dengan corong bunga panjang. Pada musim dingin jenis ini mengalami dormansi alias istirahat tumbuh. Ia baru tumbuh kembali saat musim semi atau awal musim panas.

Itu ditandai dengan munculnya bunga.

b. Adenium multiforum

Masyarakat Afrika menyebut jenis ini, impala lelie atau impala lily. Sosoknya berbeda dengan A. obesum. Daerah asalnya di bagian timur Afrika Selatan dan Mozambik. Jenis ini tahan di lingkungan yang kering dan dingin. Ia banyak dijumpai tumbuh menyemak. Selintas bentuknya lebih kokoh, bunga lebat, dan tegak lurus.

Di habitat aslinya, ukuran akar sangat besar.

Bunga A. multiflorum lebih indah dibandingkan adenium jenis lain. Bunga berbentuk bintang dengan warna merah tua di pinggir petal, dan putih atau merah cerah di tengah-tengah petal. Meski berbunga sekali dalam setahun, tetapi bunga A. multiflorum lebih lebat sehingga bisa menyelimuti tajuk. Dalam setahun, A. multiflorum berbunga selama 2 hingga 4 bulan.. Ukuran bunga tak jauh berbeda dengan A. obesum 6-7 cm. Adenium multiflorum lebih cepat tumbuh bi la menggunakan biji. Ukuran tanaman besar dan melebihi A. obesum. Pada umur 4—5, ia sudah rajin menghadirkan kecantikan bunganya.

c. Adenium swazicum

Adenium swazicum banyak dijumpai di Swaziland, pesisir pantai Afrika Selatan, dan perbatasan antara Afrika Selatan dan Mozambik. Pertumbuhannya termasuk lambat dibanding jenis lain. Meski lambat, tetapi ia lebih mudah dibudidayakan. Dengan biji saja tanaman sudah bisa tumbuh.

Adenium swazicum berdaun hijau cerah sampai tua dengan bulu lembut di bawah permukaan daun. Ukuran daun lebih lebar dan pendek. Mampu tumbuh di lingkungan yang cukup air dan hangat. Meski demikian, jenis ini juga tahan terhadap lingkungan yang dingin. Selama musim gugur, daun akan berjatuhan. Pertumbuhan terhenti selama musim dingin dan baru tumbuh kembali saat musim semi. Bunga didominasi oleh warna cerah, seperti merah muda, putih, dan ungu muda. Namun, bunganya tidak bertahan lama. Ukuran diameter bunga berkisar 6-7 cm. Benang sari bunga berukuran pendek dan tersembunyi di dalam corong bunga.

d. Adenium boehmianum

Adenium boehmianum banyak tumbuh di daerah bebatuan. Jumlah cabang sangat banyak dan batangnya menyemak dengan ketinggian mencapai 10,8 kaki. Tanaman ini banyak ditemukan di Namibia dan bagian selatan Angola. Ukuran daun paling lebar dari jenis lainnya, 10-15 cm.

Bentuk bunga serupa dengan A. swazicum. Ukurannya kecil, tak lebih dari 5 cm. Bunga berwarna merah muda dan ungu. Masa berbunga tak panjang, hanya beberapa minggu saja. Sayang, adenium ini agak malas berbunga dan lambat tumbuh.

e. Adenium somalense

Adenium ini berasal dari selatan Somalia dan menyebar hingga ke Kenya dan Tanzania. Di habitatnya, seperti Somalia, jenis ini tumbuh meraksasa. Ketinggiannya mencapai 15 kaki atau 4,5 m. Namun di Kenya, ia hanya tumbuh sebagai tanaman semak dengan akar yang kecil. Pertumbuhan relatif cepat dan rajin berbunga. Daun berwarna hijau terang dengan panjang daun 5—10 cm, lebar 1,8—2,5 cm, dan tulang daun menonjol.

Bunga lebih kecil dari A. obesum yakni 5 cm. Warna bunga bervariasi dari pink, sampai merah tua. Salah satu varietasnya yaitu crispum memiliki corak bunga yang unik, bersetrip seperti anggrek, berbentuk bintang dan memiliki petal mengeriting. Tanaman berbunga dari musim gugur hingga panas. Untuk membedakan dengan A. somalense bisa dilihat di daunnya.A. somalense berdaun tebal, sedangkan crispum daunnya runcing dan kecil.

f. Adenium socotranum

Jenis ini hanya bisa ditemukan di Pulau Socotra, di selatan Lautan Hindia, dan Semenanjung Arab. Tumbuh meraksasa dengan ukuran yang besar. Diameter tanaman mencapai 2,4 m (8 kaki), dan ketinggian batang mencapai lebih dari 2 m. Tanaman ini menyerupai pohon b a o b a b—s e j e n i s tanaman dari genus Adansonia yang mampu tumbuh hingga ribuan tahun karena memiliki diameter sangat besar, hingga 5 m.

Batang tanaman tumbuh vertikal dan kokoh. Dengan batang berwarna kecokelatan dan kanopi yang menyempit. Panjang daun 12 cm dan lebar 4 cm. Warnanya hijau tua dengan tulang daun yang menonjol dan berwarna putih. Jenis ini lambat berbunga, tetapi bunga yang dihasilkan berwarna cerah dan berukuran besar. Ukuran bunga 2 kali A. multiflorum, dengan diameter mahkota 10—13 cm.

g. Adenium oleifolium

Adenium ini ditemukan pertama kali di pedalaman Afrika Selatan, di gurun pasir Kalahari di sebelah selatan Botswana, dan timur Namibia. Ukurannya kecil dan pertumbuhannya relatif lambat. Bonggol jarang berukuran lebih dari 30 cm. Kalau pun ada pasti telah berusia ratusan tahun.

Bentuk daun memanjang dengan ujung lancip dan saling berdekatan. Panjang daun 10 cm dan lebar 0,5—1,5 cm. Daun berciri khas, hijau tua keabu-abuan. Jenis ini juga terkenal dengan bunganya yang berukuran kecil, 2—5 cm. Warna mahkota bunga pink dengan corong putih atau kuning keemasan. Itu pun hanya mekar selama beberapa bulan selama musim panas.

h. Adenium arabicum

Adenium ini termasuk langka. Ia ditemui di perbatasan selatan dan barat semenanjung Arab dan Yaman. Queen of thousand flower—sebutan A. arabicum—tampil eksotik dengan batang bercabang banyak. Sosok bunga pink terang dan warna putih di tangkai, membuatnya banyak diburu orang. Apalagi ia tergolong langka karena sulit diperbanyak. Ukuran bunga di Semenanjung Arab mencapai 4cm. Namun di Yaman, bunga mekar hingga berdiameter 8,5 cm. Jenis ini tergolong sangat rajin berbunga.

Sama halnya dengan jenis lain, A. arabicum mengalami dormansi pada musim dingin. Ditandai dengan daun berguguran secara bertahap. Saat musim panas tiba tanaman kembali berdaun, diikuti dengan munculnya ratusan bunga yang memenuhi tajuk.

2. Hibrida

Beragam adenium saat ini mudah ditemukan di berbagai tempat. Ia banyak dimanfaatkan sebagai penghias halaman di perumahan, hotel, dan perkantoran. Kecantikannya tak lepas dari bunga yang kian bervariasi. Di antaranya putih, merah muda, merah tua, campuran merah putih, putih garis merah, dan. Semua itu hasil kreasi pemulia di Thailand, Taiwan, Amerika Serikat, bahkan India. Akhir-akhir ini, pekebun adenium di Indonesia juga mulai menelurkan karyanya. Dengan keanekaragaman itu pamor adenium semakin melesat bak meteor.

Diduga saat ini terdapat 200—400 varietas adenium yang masuk ke Indonesia. Salah satunya harry potter yang masuk awal 2004. Harry potter bisa disebut sebagai varietas yang unggul di segala “lini”. Kelebatan bunga, rajin berbunga, keindahan warna, dan sebagainya. Karena itulah harry potter banyak ditiru pemulia lain. Mereka menciptakan adenium sejenis tetapi mengambil induk berbeda. Ada yang besar, kecil, garis merah tebal, garis merah tipis.

Saat ini tak kurang dari 20 macam harry potter beredar di pasaran Karena banyaknya varietas sejenis, sehingga penyilang Taiwan mengelompokkan dalam grup yang disebut paihe artinya putih garis merah. Grup lain yaitu manthingsiang, tayeman, dan sishe.

Grupmanthingsiang, dahulu disamakan dengan harry potter. Padahal, mantingsiang adalah satu generasi setelahnya. Corak mantingshiang juga amat beragam, mulai dari ketebalan garis tengah, warna dasar, pola garis, ukuran bunga, dll.

Grup ketiga yaitu tayeman, adenium putih dengan pinggir bunga warna merah. Yang masuk ke dalam grup ini adalah my country, zaftigmoon, nobel cuncubine, super nobel cuncubine, dll. Perjalanan masing-masing varietas itu berbeda generasi, tetapi semuanya berasal dariAdenium multiflorum.

Grup terakhir yaitu sishe. Di dalamnya berisi varietas-varietas yang mempunyai corak garis-gris tajam, berukuran kecil, tetapi lebat. Daunnya pun tirus. Varietas itu mewarisi darah dariAdenium somalense var crispum. Misalnya kiss me quick dan pluto.

Selain jenis-jenis itu masih ada penggolongan tanaman yang didasari pada warna. Di antaranya warna putih, pastel, merah muda, merah, ungu, bercorak, dan kelompok lain. Sebagian besar dari varietas itu dihasilkan oleh A. obesum. Sisanya oleh A. swazicum, somalense crispum, dan spesies lain. Lantaran, persilangan sudah banyak dilakukan sehingga 1 varietas bisa masuk dalam 2—3 kelompok.

Klasifikasi jenis versi lain dibagi atas 4 grup. Yakni grup: Flower (Bunga), Leaf Form (Bentuk daun),Grown habit (Kebiasaan tumbuh), dan Others (Grup lain). Masing-masing grup dibedakan lagi oleh sub grup.

Untuk grup bunga, dibedakan atas warna, yaitu : putih, pastel, merah muda, merah, ungu, corak, dan lainya. Sedangkan bentuk daun dibedakan atas variegata dan grup lain. Kebiasaan tumbuh dibedakan yaitu mini dan grup lain. Penggolongan itu amat bermanfaat saat memilih tanaman.

Klasifikasi ini amat bermanfaat saat membeli atau memesan adenium.Contohnya : Ob-Fl-Rd-213. Artinya bunga yang dipilih (nomor 213) tergolong Adenium obesum, berwarna merah dengan nomor 213. Namun klasifikasi itu belum berlaku di Indonesia.

Sumber : Majalah Trubus